Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2010

Aku dan Dia


Tok..tok..tok…Assalamualaikum,
Ku dengar pintu diketuk dengan lembut dan seorang lelaki yang sudah ku kenali memberi salam. Dirumah sepi, hanya ada ibu yang sedang terlelap tidur siang dan aku yang sedang membaca buku di kamar.
Ku buka pintu…
“Walaikumsalam bang…dari mana siang bolong begini?”
“Dari kantor, kebetulan kerjaan udah pada kelar, jadinya iseng pengen main aja ke sini”
Aku pun ke dalam menyiapkan minuman untuk sepupuku Hari, dan dia yang sudah sering main ke sini,jadi masuk ke ruang tamu tanpa disuruh.
”Nih bang..Mala bikinin minuman yang seger deh...”
”Wuih..wuih..enak niy”
”Ouww..pastinya...”
Kami pun mengobrol...kami sebenarnya sepupuan jauh, yaitu keluarga dari ayahku, tapi karena jarak rumahnya tidak terlalu jauh, jadi hubungan keluarga kami sangat akrab.
Hari bercerita tentang pekerjaannya dan Aku bercerita tentang skripsinya yang sedang menunggu Acc dari dosen pembimbing.
”Eh ada Hari,,udah lama?Tante lagi ga enak badan, jadinya habis minum obat, tiduran”, Ibukubangun dan menyapa Hari.
”Lumayan tante”
”Udah makan belum?Tadi Mala masak sayur sop”
”Udah tante, tadi sebelum pulang makan siang dulu di kantor”
Kami bertiga pun mengobrol dan becanda, membicarakan tentang sanak saudara yang sudah lama tidak berjumpa.
HP Kemala berdering tanda bunyi pesan masuk.
Pesan dari sahabatnya,

Mal,Pak Maulana udah pulang dri luar kota, bsk katanya mw kKmpus. Gw td ktemu istrinya d sekdos

Aku tersenyum bahagia membaca pesan dari sahabatnya Kartika. Dan membalasnya,

Okeh Tik,bsk gw kKmpus, thx yua...

“Ngapain Mal,,,senyum-senyum sendiri, serem amat” Hari heran melihat Kemala.
“ngga..dosen pembimbing Mala udah pulang dari luar kota, dan besok katanya mau ke kampus, jadinya besok Mala bisa Acc” sambil tersenyum senang.
“Oooo gitu..pantesan. Mal, bang Hari pulang dulu ya..mau jemput Tari di sekolah, tadi dia sms minta dijemput, terus minta ditraktir makan katanya”
“Wah..enak bener ya, punya abang kaya bang Hari, baik banget. Mala mau ditraktir juga dong!” Aku meledeknya.
”Ayo,,boleh..tapi nanti duduknya dipelek”. Hari tertawa puas.
”Huwhhh dasar...” Akupun merungut.
”Lagian,,ga muat kali neng,,,kapan-kapan aja ya ditraktirnya”
”Siiippp”
Hari pun pergi dengan motor Vixion Modif  kesayangannya.

Keesoka harinya Kemala Janjian dengan Kartika di depan sekdos untuk bertemu dengan dosen pembimbing Pak Maulana.
”Hey Tik,,Udah lama nunggu?” Kartika Cipika cipiki dengan Kemala
”Ngga...gw jg br nyampe Mal...”
“Ayo ke ruang Pak Maulana!”
Kami pun berjalan menuju gedung dimana ruangan pak maulana berada.
Beberapa lama kemudian, Aku dan Kartika keluar dari ruangan itu dengan wajah sumringah, karena Aku sudah di Acc dan Kartika hanya tinggal revisi kesimpulannya.
Kami langsung ke tempat makan favoritnya dan memesan makanan yang sama, yaitu kwetiaw siram seafood.
“Wah..bentar lagi sidang dan lulus deh Mal...Mau ngapain ya kalo dah lulus?” Kartika berandai-andai.
“Ya..kerja Tik..!”
“Lo kapan mau kawin Mal?”
“Waduwh..ga tau tuh...” Aku menjawab asal sambil menyeruput es jeruk.
“Ko ga tau mal...mang cwo lo bener-bener udah ga pernah hubungin lo lagi Mal?”
“Udah hampir setahun lost contact Tik..kan gw jg udah sering cerita sama lo!” Aku sedikit sedih ditanya tentang cwo yang sudah lama hilang begitu saja.
“Parah juga cwo lo ya...gw malah takutnya ada sesuatu yang terjadi sama dia atau kemungkinan terburuk, dia nikah di sana, yah namanya lo sama dia kan beda pulau, beda propinsi, apalagi lo juga ga pernah ke kampungnya kan?”
“bisa juga Tik..tapi yang gw inget, terakhir dia bilang mau pergi kerja lumayan jauh, tapi untuk bilang putusnya itu ga jelas juga”
“Terus..lo masih ngarepin dia, walaupun udah setahun lost contact?” Kartika menegaskan.
“Dibilang ngarepin c ngga tik...Cuma belum ada yang bisa gantiin dia dihati gw”
“Oooo..maksudnya lo masih sayang sm dia gitu?”
“...” Akupun mengangguk mengakuinya. “Ya udah Tik...bahas yang lain aja yah, gw jadi sedih lagi nih”
“iya..iya..maaf ya bu...jadi bikin sedih gini..”
“Ga papa ko Tik”
“Ohya...lo udah mulai cari-cari lowongan kerja belum?”
“Udah c...tapi gw ketemunya harus punya pengalam mulu minimal 2 tahun sampai 3 tahun”
“nah itu dia Tik,, tapi gw pengen coba tanya sama bang Hari sepupu gw. Kalo ada, nanti gw kabarin lo juga deh Tik..”
“Sippp...makan dulu niy...pamali makanan dicuekin”
“Ah elo Tik, bisa ajah, bilang aja lo udah laper yak?”
“Nah kan Lo dah tau Mal” Tika tertawa kemudian kami menyantapnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, kami pulang. Kartika kembali ke kosannya yang jaraknya tidak terlalu jauh, karena ia ingin segera menyelesaikan revisinya, agar bisa sidang bareng dengan Kemala. Sebelum kami pulang, kami pun sholat Ashar terlebih dulu di masjid kampus.

“Tik..gw balik ya...Seamangat ya,,,biar kita bisa sidang bareng!”
“Okeh Mal...thanx yah, hati-hati di jalan Mal..”
Kemala membalasnya dengan senyuman sambil melambaikan tangan kepada Kartika yang akan menyeberang.

Malam ini di rumah Bang Hari ada Maulid sehabis Isya, aku dan keluargaku akan ke sana sehabis maghrib, tetapi ibu dan adikku Ratna yang masih kelas 3 SMP sudah berada di sana sejak sore, untuk membantu persiapan acara.
Sehabis maghrib, Aku baru sampai rumah, dan segera mandi, karena mau ke rumah Om Sandy, ayah Hari.
Aku kesana naik motor bersama ayah yang pulang hampir bersamaan denganku.

“Assalamualaikum” Ayahku memberi salam.
“Walaikumsalam” Sanak saudaraku yang sudah datang menjawab salam berbarengan
Aku pun mencium tangan saudara-saudaraku yang lebih tua. Aku senang melihat keluarga besar dari Ayah berkumpul, karena jarang sekali rasanya seperti ini, kecuali ada acara-acara khusus seperti ini.

“Ini Kemala? Udah gede yah...cantik kaya nenekmu masih muda” Nek Imah, salah satu adik Almarhumah nenekku yang sudah sakit-sakitan sehingga jarang sekali datang dalam acara kumpul keluarga, hari ini datang dengan badan yang sudah agak kurus.
Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman setelah aku mencium tangannya yang sudah keriput.

Kemudian kami pun berkumpul di sebuah pendopo rumah Om Sandy yang sudah disiapkan untuk acara maulid ini.
Acara berjalan dengan Hikmat dan kami pun bercengkrama, membicarakan tentang anak-anaknya dan hal-hal lainnya.
Kemala dan saudara-saudara seumurannya membantu membereskan dan merapikan makanan yang dihidangkan. Kami pun mengobrol dan asik bercanda.

“Bang Hari...sini deh,,!” Aku memanggil Hari yang sedang mengambil cemilan.
“Ada apa Mal?” Hari pun menghampiriku.
“Bang, dikantor abang lagi ada lowongan ga? Kemala pengen kerja bang, udah mulai ngelamar-ngelamar c...tapi belum ada yang pasti soalnya kemala belum sidang dan dinyatakan lulus, jadinya belum ada transkrip nilai keseluruhan dan ijazahnya”
“Kamu jurusannya akuntansi kan?” tanya Hari memastikan.
“bener bang!”
“Oooo..bisa..bantu-bantu staff accounting dikantor abang”
Wajahku mungkin terlihat sumringah “kalo buat dua orang bisa ga?”
“Memang buat siapa lagi?”
“Buat temenku Kartika”
“iya..bisa. tapi karena kalian itungannya magang, jadi kemungkinan gajinya ga terlalu besar yah!”
“iiyaa...ga pa pa Bang...namanya juga belajar”
“Huwh..kamu tuh..bisa ajah,,,ya udah sana bantu-bantu lagi,,,jangan lupa cuci piringnya sekalian ya mba...hehehe” Hari meledekku puas.
“iya juragaaaan...” Aku meladeninya dengan ejekan.
Malam sudah semakin larut dan sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sanak saudara sudah banyak yang berpamitan pulang, walaupun masih ada yang mengobrol dan ada yang menginap karena rumahnya di luar kota.
Kami sekeluarga berpamitan pulang pukul 11, karena jarak rumah kami tidak terlalu jauh. Ayah dan Ibu pulang lebih dulu dengan motor, aku dan adikku pulang diantar Bang Hendri.

Beberapa minggu kemudian, Aku dan Kartika sudah mulai bekerja di kantor Bang Hari. Karyawan di sana ramah dan mau mngajarkan kami. Akan tetapi kami akan sidang seminggu lagi, jadi kami akan minta izin tidak hadir 2 hari sebelum sidang untuk mempelajari kembali materi-materi skripsi yang telah dibuat.

Setelah sidang selesai, kami segera merevisi skripsi dan melanjutkan pekerjaan yang sudah menunggu di kantor Bang Hari.  Karena ternyata tenaga-tenaga fresh graduated sangat dibutuhkan, sehingga kami dijanjikan menjadi karyawan di sana bulan depan yaitu bulan november.

Akan tetapi Kartika mendapat tawaran kerja di sebuah Bank daerah rumahnya, Bandung. Karena di Jakarta ia hanya kuliah dan sedikit sanak saudara.

“Mal...tolong sampein makasih banyak ke Bang Hari ya...udah mau kasih pekerjaan walaupun Cuma magang, tapi ini berguna banget buat gw mal...”
“iya..sama-sama Tik...keep contact yah”
“siippp...kalo maried, undang-undang yah!” \Kartika meledeknya.
“sama siapa Tik?”
“Siapa aja,yang berani ngelamar lo duluan...hahaha”
Aku dan Kartika tertawa bersamaan.

Selama aku dan Tika kerja di kantor Bang Hari, kami jarang sekali bertemu dengannya, karena kami berada di lantai yang berbeda.

Setelah selesai wisuda dan menerima semua ijazah dan transkrip nilai, segera aku melengkapi persyaratanku di kantor Hari, untuk menjadi karyawan.

Beberapa minggu setelah kepergian Kartika, Aku bermimpi mantan pacarku yang sudah lama tidak bertemu, datang ke rumah, akan tetapi rasa sayang ini sudah hampir redup untuknya. Aku masih menerimanya untuk bertamu, tetapi tidak untuk menjadi kekasihku. Setelah mengobrol-ngobrol dan mencoba membujukku untuk kembali dengannya, akhirnya ia tidak berhasil, kemudian aku pun tersentak bangun dengan keringat dingin membasahi keningku.
Aku menghela nafas,  agar degup jantungku dapat kembali normal. Mimpi buruk ini terjadi lagi, sudah lebih dari 2 kali mimpi ini terulang. Aku ingin menangis dan teriak, tapi aku tidak bisa, rasa sakit hati ini sudah ditorehkannya terlalu dalam.

Keesokan malam, tepatnya rabu malam.
Seseorang datang, tetapi kali ini ibu yang membukakan pintu.
Suara ini itu telah ku kenali.
“Eh Bang Hari,,,Rapih banget bang?dari mana mau kemana niy?” Aku nongol ketika sedang nonto tv. Tetapi Hari hanya membalas dengan senyuman.
“Om Misdi ada bu ..?” Hari bertanya pada ibuku.
“Ada, duduk dulu Ri...sebentar ibu panggilin ya..”
 Sesaat kemudian,,,
“Ooh..Hari...Ada apa Ri?”
Aku melihat mereka berbincang-bincang serius di ruang tamu. Tiba-tiba ayah memanggilku.
“Kemala...”
Aku segera menghampiri, “Ada apa yah?”
“Ganti baju sana, Bang Hari mau traktir kamu katanya!”
“Ah masa...beneran bang...kemala kan Cuma becanda waktu itu!”
Bang Hari terlihat aneh malam ini, tidak terlalu banyak bicara, terlihat semakin dewasa.
Aku pun ke kamar ganti baju dengan pakaian agak formil, karena melihat Hari agak rapi, jadi aku harus sedikit mengimbanginya.
Kemudian kami pun keluar dengan menaiki motor kesayangan Hari.
“Kita mau kemana bang?”
“ikut aja deh..!”
“yah...kalo bang Hari nyebur ke kali c kemala ga mau bang”
“Ngaco kamu, ya ngga lah, abang jg ga mau nyebur ke kali”
Aku masih merasa aneh, tidak biasanya bang Hari agak kaku bercanda denganku.

Sesampainya....
“Bang...kenapa ke tempat makan begini, mala kan malu ga biasa ke tempat makan mewah banget gini!”
Hari tidak menggubris perkataanku,
“kamu mau apa Mal?”
“sama dengan abang aja”
Akupun akhirnya diam saja, sampai makanan pesanan datang, kita hanya saling diam...
Makanan penutup yaitu ice cream waffle toping strawberry kesukaanku datang.
Aku tidak langsung memakannya, karena masih terasa kenyang.
“Nah,,ice cream kesukaan kamu kan?”
“Wah..bang Hari tau aja niy, makasyih bang, tapi kenapa ice cream harus ada cincinnya ya bang? Memangnya kalau makan ice cream di sini seperti ini ya?”
Hari hanya membalasnya dengan senyuman sambil menatapku lekat, “Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu kemala. Pakailah cincin ini, sebagai tanda bahwa kamu menerima lamaranku!”
Kemala yang sedang menyuap ice cream sangat terkejut.
“Bang Hari kenapa?????”
Hari menggenggam tanganku yang tidak sedang memegang sendok.
“Aku melamarmu Kemala...”
“Tapi Bang...Kita kan saudara?”
“Kita saudara jauh, hanya saja rumah kita yang tidak terlalu jauh dibandingkan dengan sanak saudara yang lain”
“Abang tau kamu, dari ayah, ibu, dan Kartika”
“Kartika?”
“yah...aku tidak pernah lost contact dengannya, semenjak kamu masih kuliah, maavin abang Kemala”
“Jangan-jangan tadi abang bicara serius dengan ayah, membicarakan tentang ini?”
“Benar kemala..dan ini sudah abang bicarakan dengan keluarga abang dan keluarga kamu”
“Terus, gimana?” Aku sedikit gerogi, sambil menaruh sendok di pinggir piring ice cream.
“Semuanya setuju”
“Mala bingung bang...? Kenapa abang tiba-tiba bilang gini?”
“Abang sayang kemala”
Aku semakin tertegun...Aku juga memang menyayanginya, tetapi aku merasa rasa sayangku ini hanya sebatas dia sebagai abang.
“bagaimana jawaban kemala...?”

Dua minggu kemudian,
Resepsi pernikahan Hari dengan Kemala pun dilangsungkan dengan cukup meriah di rumahku. Kartika tidak lupa ku undang, dia datang dengan kedua orang tuanya, karena orangtuanya ingin sekali melihat sahabat anaknya yang sedang berbahagia.
“Mal,,,maavin gw yah ga pernah bilang kalau Bang Hari selama ini cerita dan tanya-tanya tentang lo”
“Ga mau maavin ah...sebelum lo juga nikah...”
“Iiihhh.jahat lo mal...awas ajah ya kalo gw nikah, gw ga mau undang lo!”
“lho..lho...kenapa jadi ancem-anceman gini?Becanda ko...”
Kami pun tertawa bersama....
Bang Hari hanya tersenyum melihat tingkah dan ejekan-ejekan kami yang sudah lama tak jumpa.
“pokoknya gw doain biar kalian berdua jadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dan cepet punya anak yang lucu-lucu kaya gw...” Kartika mendoakan sambil menggengam kedua tanganku dan Hari.
“Makasih Tika” Hari tersenyum pada Tika
“Tik, silahkan dicoba hidangannya, nanti jangan lupa nemuin nyokap gw dulu ya..?”
“Okeh sip..nyonya Hari,,,” Tika mengacungkan jempol.

Resepsi berjalan dengan cukup meriah dan hikmat.

“Bang...Mala Cape bener rasanya”
“Ya udah..kamu istirahat duluan ya sayang...”
“Ko manggilnya sayang Bang..”
“Haduh Kemalaku...Abang kan udah jadi suami kamu”
“Oh iya...ya...tapi Mala manggil abang apa?kan umur abang dengan kemala kan juga beda 4 tahun?”
“Hmmmm...apa ya?”
Kami sama-sama berpikir...
“Bang gimana kalau Mala panggilnya Kakanda?”
“Kakanda?terus abang panggilnya kamu Adinda?”
“Iya...boleh juga..”
“setuju...kamu ada-ada aja mal”
“eits...ko manggilnya masih gitu”
“oh iya...Adindaku”
“Nah gitu dong kakandaku...”

Tidak disangka, kami adalah pasangan yang kompak dan serasi. Kemala juga tidak segan-segn menceritakan pengalaman pahitnya yang ditinggal kekasihnya yang lama. Tetapi hal ini tidak membuat Hari cemburu ataupun marah, justru semakin sayang, karena kejujuran dan bakti Kemala kepada suaminya. Walaupun sebenarnya Kemala belum bisa sepenuhnya dapat mencintai Hari.

1 tahun kemudian setelah pernikahan, Kemala belum dikaruniai seorang anak. Hari mencoba mengkonsultasikannya ke dokter. Kemudian dokter pun memeriksakan keduanya dan memberikan solusi.
Ternyata solusi dokter itu membuahkan hasil, 4 bulan kemudian, Kemala dikabarkan telah hamil jalan 2 bulan. Hari bahagia sekali dan meminta Kemala untuk mengambil cuti atau berhenti bekerja di kantor, tetapi Kemala adalah anak yang aktif, ia tidak ingin hanya berdiam diri di rumah, dia memiliki rencana akan ambil cuti setelah jalan 8 bulan kehamilan. Hari yang melihat keyakinan dan keteguhan hati Kemala, luluh dibuatnya.

Ketika usia kehamilannya beranjak sudah 5 bulan, ia rutin memeriksakan ke dokter, pada saat di rumah bersalin, ketika Kemala menunggu dokter di ruang tunggu, tiba-tiba saja Kemala merasakan sakit diperutnya, semakin sakit, hingga ia pingsan dan mengeluarkan banyak darah.

Suster langsung menghubungi Hari untuk segera datang...tidak berapa lama kemudian Hari datang,,,
“Kami harus segera merujuknya ke rumah sakit terdekat, karena kondisi istri bapak sangat lemah”
Kemala sudah setengah sadar, dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Kemala...kamu harus kuat sayang..”
“Maavin Kemala Bang,,, Kemala ga kuat”
“Sayang...kamu ga boleh ngomong gitu...kamu harus kuat” Hari menahan tangis, sambil menggenggam tanganku erat.
“Kemala Sayang Bang Hari”
Sesampainya di rumah sakit, Kemala segera dilarikan ke UGD, akan tetapi Hari tidak diperkenankan masuk.
10 menit kemudian, dokter keluar dari ruangan.
“Bapak suami Bu Kemala?Kami sudah berusaha Pak, tetapi Tuhan menentukan lain, istri dan bayi bapak tidak bisa diselamatkan.”
Hari menyeruak masuk ke dalam ruang UGD dengan perasaan kacau, melihat istrinya terbujur dengan wajah pucat, namun dengan seutas senyuman manis menghiasi wajah Kemala yang cantik. Hari menangis sambil memeluk istrinya erat-erat. Perasaannya kacau, pedih....ditinggalkan kekasih dan belahan jiwanya...

Ternyata Kemala memiliki kondisi kehamilan yang lemah, hanya saja Kemala tidak terlalu merasakan, ia tetap bekerja, hingga akhirnya ia mengalami pendarahan hebat, sehingga tidak dapat tertolong lagi.

Beberapa minggu kemudian........

Setelah kepergian istrinya, Hari menjadi sering sakit, ia terkena penyakit radang usus akut, hingga ia harus dirawat di rumah sakit, tetapi kondisi Hari tidak kunjung membaik. 3 hari kemudian Hari pun menyusul istrinya tercintanya, Kemala.....

Minggu, 22 November 2009

Pagi


Azan subuh berkumandang, aku dapat mendengarnya sayup-sayup karena rumahku jauh dari Masjid, namun tak mengurangi indahnya azan yang dikumandangkan.
Kelangkahkan kaki menuju pancuran yang berada di sebelah kamar mandi untuk mengambil wudhu, begitu dingin namun nikmat, kesejukan yang tak pernah ku dapatkan saat matahari mulai muncul.
Selesai menunaikan sholat subuh, ku buka pintu agar segarnya udara pagi memenuhi seisi rumah yang sederhana ini, aku keluar ke teras rumah, ku hirup dalam-dalam kesegaran dan kesejukannya.
Ku lihat beberapa orang baru pulang dari masjid setelah menunaikan sholat subuh. Sesaat kemudian ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk, segera ku buka dan ku baca perlahan, sambil duduk di kursi teras depan rumahku. Belum selesai ku baca, pesan kembali masuk, tak ku indahkan sejenak, tapi ternyata dari orang yang sama yaitu sahabatku yang sedang menuntut ilmu di daerah Jawa Timur. Aku dan ia tetap saling menghubungi satu sama lain walaupun jarak memisahkan, karena ikatan ukhuwah yang tertanam sejak duduk di bangku SMP sangat kuat. Reuni demi reuni semakin mengikatkan tali silaturahmi di antara kami.
Ku baca pesan pertama,  

Suatu organ yang tak konsekuen telah rapuh. Dikikis habis oleh tajamnya sebuah kisah. Terhenyak dan mataku terbelalak. Detak jantung berpacu melebihi batas waktu. Aku berharap tapi tak dijawab. Ketika aku mulai membuka, tapi dy tak menyapa. Aku sadar kalau aku tak mempunyai warna. Sedangkan dia mempunyai pelangi yang begitu mempesona.

Aku terpaku, dengan melanjutkan membaca pesan keduanya,

Dy melihatku seperti purnama dimalam hari. Hanya datang sesekali dan tak akan pernah menyatu dengan pelangi. Dy jauh tapi selalu bertemu, dy dekat tapi tak pernah melekat. Syaqiqotu nafsi yang lama dinanti, mendekat dan hampir melekat sampai pada akhirnya melesat dengan cepat. Aku tersesat dalam keheningan, mencari arah dengan kompas tuhan (curahat hati seorang perantau)

Terhenyak dengan penuh tanda tanya, aku pun membalasnya,

??

Hanya balasan tanda tanya yang ku berikan. Karena aku benar-benar tak paham dengan pesannya tersebut. Ia pun membalasnya dengan tanda tanya juga. Aku semakin tak paham dibuatnya. Aku abaikan beberapa hari, hingga akhirnya aku menghubunginya, dan menanyakan hal yang biasa, 

Seminggu kemudian, ku mulai membuka email, ku tuliskan kata demi kata.

Pelangi dan purnama adalah wujud kesempurnaan yang diciptakan Sang Khalik, tak akan tertukar dan tak pernah salah, bahwa pelangi hadir saat matahari muncul dan purnama hadir pada malam hari sesaat setelah mega merah menyeruak. Itulah kisah hari yang indah, melihat matahari yang begitu indah dan memepsona pada siang hari, kemudian memandang purnama yang terang dan tenang di malam hari, begitu sempurna dengan lantunan bait-bait syair insan yang mencinta.
Kisahnya tak akan sia-sia dengan menghargai apa yang tertanam dalam diri dan yakin suatu hari akan menyatu dengan jalan-Nya.

Ku kirim ke emailnya dengan jantung berdegup kencang.
Aku tak mengatakan padanya bahwa aku mengirimnya email.
Ku berharap sangka baiklah yang akan ku terima, meskipun harapan itu ada dan tak akan hilang.
Ku shut down komputer, menunggu coment darinya saat ia membacanya nanti.

Melanjutkan hari-hari yang penuh warna dengan suasana hati yang asri.


Kamis, 05 November 2009

Memory Of July


Smua menjadi keruh
Semua terasa kacau
Di saat diri ini mulai mncoba meniti kembali asa yang hilang
Ia pun datang
Membawa kebahagiaan dan senyuman dibibirku
Semua terlihat indah dan terasa indah sesaat
Tetapi aku sadar, ia hanyalah hampa
Disaat ku coba menerka
Yang ku dapat hanya rindu yang menjadi debu
Hilang bersama hembusan angin
Tak tersisa
Aku hanya  bisa meratapi
Ini adalah sebuah kesalahan
Kesalahan yang kucipatakan sendiri
Namun kekagumanku dan kebahagiaan yang ia ciptakan akan tetap ku kenang
Aku mulai mencintainya
Aku pun akan mulai menjauhinya
Biarlah perih yang tak tertahan ini ku obati sendiri
Tanpanya...

Hari itu adalah hari yang tak terlupakan oleh seorang gadis berusia 18 tahun, bernama Lili...
Saat itu Lili menjadi koordinator sebuah acara LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) yang diadakan dari sekolah. Acara tersebut diadakan didaerah Cibodas, Bogor.
Acara telah tersusun rapi, hingga saatnya waktu untuk mengumpulkan tanda-tangan para senior yang hadir pada acara tersebut.
Saat lili sedang memantau jalannya acara
“Li, sini deh!” salah satu seniornya bernama Elisabet memanggilnya.
“Da pa ya ka?” Lili menghampiri Kaka seniornya yang biasa disapa ka Ibet.
Lalu Kak Ibet membisikkan sesuatu ke telinga Lili, saat itu dihadapan kak ibet ada seorang adik kelas bernama Yanuar sedang sibuk menulis data tentang Kak Ibet yang dimintai tanda tangan.
“Nah, Yanuar mau tanda tangan kaka ga?” Ejek Kak Ibet.
“Ya mau ka”
“Kalau mau, coba rayu Kak Lili sampai dia mau sama kamu” Tantang Kak Ibet.
“bener  ya ka...”
Lili hanya tersenyum melihat ekspresi bahagia yang dipancarkan yanuar.
Tetapi kebahagiaan Yanuar lenyap saat mencoba merayu Lili, karena sebelum memberi tantangan, kak Ibet meminta agar tidak mudah untuk dirayu.
Ada rasa tak tega dalam diri Lili. Hingga akhirnya
“ah...mending ga usah aja d kak tanda tangannya” Yanuar menyerah
“Lho kenapa baru gitu aja nyerah?” Kak Ibet tak mau kalah
“Susah banget nih kaka, Yanuar kan ga bisa merayu” aku yanuar
Yanuar mencoba merayu Lili lagi, tetapi hanya celaan yang didapat.
Tapi akhirnya yanuar diberikan tanda tangan kak Ibet, tetapi tidak mampu merayu Lili
Sampai pada akhirnya
“Yan, sini deh..?” Panggil Lili
“Ngapain sih kak, suruh merayu lagi? engga deh” Yanuar terlihat BT.
“Mana Kertas tanda tangan kamu?” Lili segera menuliskan nama lengkap, alamat lengkap, jabatannya di organisasi serta tanda tangannya.
“Ngapain kaka nulis dan tanda tangan, kan belum waktunya minta tanda tangan angkatan kaka?” Yanuar keheranan.
“Ga pa2, bonus dari kaka duluan” Lili merasa tak enak hati, karena telah mengerjai yanuar
Tapi ekspresi wajah yanuar tetap kesal dan BT terhadap Lili.
Lili menjadi merasa bersalah. Sepanjang acara yang dilangsungkan selama 3 hari itu, Yanuar hanya memasang wajang BT dan jutex pada Lili
Sampai akhirnya acara pun selesai dan yanuar tidak berubah.
Tetapi pada saat Lili sedang sendirian membereskan berkas-berkas di aula setelah acara penutupan.
Yanuar menghampiri dengan membawa dua batang coklat
“Kak, ini buat Kak Lili”
Lili hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan wajah heran.
Yanuar pun segera pergi dari hadapan, kembali bergabung bersama teman-teman yang lain.
Hubungan mereka pun menjadi semakin dekat saat Yanuar mulai sms Lili terlebih dulu.

Akan tetapi, berjalan tiga bulan,hubungan itu renggang,
Pada saat Yanuar ulang tahun, Lili memberikannya hadiah, dan mengejek minta ditraktir.
Namun, saat Yanuar mengajak traktir, Lili menolaknya dengan alasan bahwa Yanuar tinggal dikosan, jadi pasti punya keperluan lain daripada harus mentraktirnya.
Yanuar tersinggung dan menjadi sangat marah pada Lili.
Padahal saat itu Lili mulai menaruh hati pada Yanuar karena setelah putus dari kekasihnya, selain sahabat-sahabat Lili yang selalu menghibur, Yanuar menjadi salah satu yang paling berarti bagi Lili.
Sejak saat itu, tak lama yanuar masuk organisasi di sekolah, Yanuar memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut.
Lili yang sekarang menjabat sebagai wakil ketua sangat menyesal dan sedih, tak ada semangat untuk mengikuti segala kegiatan yang ada dalam organisasi tersebut.
Hanya saja, tanggung jawab masih harus dijalankan sampai akhir tahun ajaran.
Dengan segala kerinduan dan rasa yang tak kunjung berkurang pada Yanuar, tugaspun harus tetap dilaksanakan dengan lelah dan penat.

Kerinduanku adalah alunan melodi yang dibaitkan oleh elok wajahnya
Ketika ia hadir sekejap dihadapanku, deraslah darah dalam nadiku
Itulah cinta yang hanya bisa dirasa
Dan begitu indah disenandungkan dengan bait-baitnya

Untukmu yang tak terdefinisikan